Selasa, 03 Desember 2013

7 Fakta "menyesatkan" ajaran Bob Sadino dalam Bisnis

Siapa yang tidak mengenal Bob Sadino ( biasa di panggil Om Bob) icon bisnis dan motivasi yang sudah banyak menghiasi dinamika bisnis di Indonesia. Bob Sadino dikenal blak-blakan dalam menyampaikan seminar Bisnis, dan selalu  tampil dengan ciri khasnya yaitu celana pendek.  Beberapa  kali mengikuti seminar dan diskusinya, Anda pasti akan merekam statement-statement keras yang barangkali tidak lazim bagi Anda. Statement yang menyebabkan kontroversi, dan bahkan menyebabkan beberapa mahasiswa akhirnya keluar dan berhenti dari bangku kuliah.
Siapa Bob Sadino? Saya tidak akan membahas lebih dalam, Anda bisa search di google.
Sebagai orang yang cerdas, apa yang disampaikannya terkadang tidak masuk diakal dan tidak logis. itulah sebabnya Anda,  apalagi yang masih belum banyak mengenal seminarnya beliau, harus menelaah dan mencermati apa maksud ungkapan beliau dan apa yang terkandung  dari statement yang beliau sampaikan. Selama mengikuti beberapa kali seminar yang beliau sampaikan, berikut ada beberapa catatan saya pribadi, yang menurut saya ‘menyesatkan’ jika kita menelan mentah-mentah apa yang disampaikan. Ini merupakan pendapat saya pribadi, Anda boleh sependapat boleh juga tidak, itu hak Anda, coba simak statement yang sering beliau ungkapkan berikut ini.
Apa Ajarannya ?

1. Jika ingin bahagia (sukses) jangan jadi karyawan.


Ketika mengikuti seminar di semarang, salah satu statement yang membuat gemuruh peserta adalah, bahwa.. ” jika ingin bahagia (sukses) jangan jadi karyawan..” padahal audience dari seminar itu adalah sebagian karyawan..
Statement beliau ini menurut saya, tidak salah. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Kebahagian dan kesuksesan itu tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi, dan apa profesi seseorang. Lalu apakah hidup sebagai karyawan itu tidak bahagia? Tidak juga. Banyak karyawan yang bahagia dengan segala kondisinya. Tentu parameter kebahagian berbeda, beda setiap orang. Apakah statement ini salah? Tidak juga.. memang peluang mencapai kebahagian dengan keberlimpahan materi akan lebih terasa jika kita menggapainya melalui bisnis, melalui dagang dan sukses. Tetapi tidak sedikit juga pengusaha yang terlilit hutang dan akhirnya sengsara. Sekali lagi pilihan sukses dan bahagia itu bergantung yang menjalani. Tentu dengan konsekuensi masing-masing memang dengan berbisnis, peluang seseorang untuk mencapai puncak kebahagian jauh lebih terbuka.

2. Kuliah itu Gobl*k-siapa yang hadir di seminar ini, besok jangan masuk Kuliah.


masih di seminar dikota yang sama, beliau secara terang-terangan menyampaikan kalau kuliah itu kegiatan  Gobl*k, besok jangan masuk kuliah. Sangat frontal memang, menyampaikan statement seperti itu didepan ratusan mahasiswa dan akademisi. Tentu saja banyak audience yang kemudian heboh dengan sendirinya, maklum sebagian peserta seminar itu adalah anak muda yang polos, lugu, dan baru semangatnya mencari jatidiri di kampus tercinta.. mendengar statement itu tentu batinnya berontak..
Namun kalau kita mau berpikir mendalam, apa yang disampaikan om Bob ini sebenarnya sangat masuk akal. Namun bagi sebagian orang ini justru menyesatkan, apalagi bagi MABA (mahasiswa Baru). Maksud saya, jika Anda ingin mencapai karir bisnis Anda dengan otodidak dan belajar berjualan sablon printing, misalnya ( seperti yang banyak dilakukan MABA saat membuat bisnis plan ) terus apa gunanya kuliah, kalau yang dipelajari adalah science. Maka apa istilah yang tepat kalau bukan Gobl*k (versi bob sadino). Contoh lagi, bisnis di bidang hiburan  padahal kuliahnya psicology, bisnis di bidang desain padahal kuliahnya di MIPA, bisnis makanan padahal kuliahnya di TEKNIK, bagaimana gak Gobl*k.. apa yang susah-susah di pelajari, tidak dipakai dalam bisnis. Lalu bagaimana seharusnya?


3. IPK diatas 3 koma alamat calon karyawan.


Satu fakta yang menarik, kata dia.. kalau kuliah kok IPKnya diatas 3, itu tandanya calon karyawan. Hmm, sangat masuk akal. Karena kecenderungan orang yang memiliki IPK bagus apalagi di Fakultas Favorit, tentu memiliki idealisme tinggi, mengaplikasikan ilmunya. Tidak lain adalah melamar kerjaan, di  perusahaan dan menjadi karyawan. Itulah mengapa justru bob sadino mengajarkan, kalau mau sukses bisnis IPK harus jeblok. Tidak salah sih.. karena dengan demikian tidak memiliki pilihan lain selain berwirausaha, karena kalaupun mau melamar kerja juga tidak ada yang menerima karena IPKnya dibawah standart, justru dengan demikian akan ‘terpaksa’ memilih jalan entrepreneur. Lalu apa jadinya kalau IPK diatas 3, kemudian memilih berbisnis… Ada, tapi sangat sedikit.. sekali lagi Life is a choice.. secara logika harusnya yang IPKnya diatas 3 ini juka diaplikasikan dalam bisnis harusnya lebih bagus lagi hasilnya.. bukankah begitu?

 4.  Kuliah itu hanya memasukkan ‘sampah’ ke kepala Anda.


Salah satu Fakta yang menyesatkan lainnya adalah “ Kuliah itu memasukkan ‘Sampah’ ke kepala Anda. Bagi setiap orang yang masih kuliah mendengar statement ini pasti protes, tidak terkecuali peserta seminar yang notabene masih kuliah. Mereka merasa apa yang dilakukan setiap hari berarti memasukkan sampah kekepala mereka..? apakah ini salah?, tidak juga.. karena memang apa yang dipelajari itu tidak dipakai di kemudian hari, jika kita bercita-cita menjadi bisnisman sukses sepertia om Bob. Apa sebabnya? Bob Sadino meniti karir bisnisnya dari Nol, dan mempelajarinya dari lapangan, dari pengalaman dan dari percobaannya sendiri. Makanya saat mempelajari sesuatu di banku kuliah sementara apa yang dipelajari itu tidak dipakai maka apa yang dipelajari itu menjadi sampah bagi otak kita. Satu statemen yang menguatkan ini adalah bahwa dia berpesan, “jadilah manusia pembelajar”.  Jangan hanya dari bangku kuliah, tapi pelajarilah dari kuliah kehidupan yang Anda jalani.

 5.  Kalau ingin kaya, bisnis sayuran.


Haha.. secara, awalnya beliau adalah pengusaha sayuran pantas saja usaha yang direkomendasikan adalah bisnis sayuran, ini adalah tipikal orang yang konsisten dengan apa yang diucapkan. Dia mengajarkan apa yang dia lakukan, menunjukkan apa yang sudah dilalui -  jadi tidak asal bunyi saja. Cerdas.

6. Pebisnis itu harus nyentrik.


Apakah pebisnis harus nyentrik? Hmm bisa iya, bisa juga tidak.. kalau tipikalnya om Bob sadino, senyentrik itu pun tentu orang akan menaruh rasa hormat ke beliau, maklum.. selain pengusaha, dia juga menjadi mentor banyak orang, dan menghasilkan pengusaha yang berbobot juga dibawah angkatannya Om BOB. Wajar bila senyentrik apaun penampilannya oran akan segan dengan beliau.. Nah kalo kita-kita, itu nafsi-nafsi saja.. ingin nyentrik silahkan, tidak juga ndak ada masalah.

7.  Bisnis Itu Hanya Modal dengkul, bahkan jika Anda tidak punya dengkul – pinjam dengkul orang lain.


Banyak peserta di sesi Tanya jawab mengeluhkan tentang keterbatasan modal yang dimiliki, lalu apa kata om Bob tentang ini, dia berujar;  mau gak kira-kira kalo dengkulnya dibeli  500juta..? tidak mau kan, berarti Anda punya modal 1 milyar dengan 2 dengkul Anda, :-) kurang lebih begitu.. see.


Begitulah karakter Om Bob yang Nyentrik, ‘menyesatkan’ bagi sebagian orang yang hanya menangkap apa yang diucapkan tapi bukan apa yang ingin disampaikan, beruntunglah orang yang disesatkan beliau kejalan kebaikan kemudian menjadi entrepreneur, dan sukses. Jika gagal, maka wajib menghabiskan kegagalan itu hingga hanya berhasil yang bersisa. Ada satu statemen yang menarik yang patut  Anda catat. Suatu ketika di solo, ada peserta yang bertanya.. “Bisnis apakah yang Prospektif Om Bob ..? dia menjawab “Bisnis yang prospektif adalah bisnis yang ‘dibuka’ bukan ditanyakan terus.. :-D” sangat singkat namun mengena…  
ketika ditanya, berapa kekayaan om Bob saat ini?, dengan nyantai dia akan menjawab, tidak tahu.. yang jelasa banyak, saya saja gak pernah ngitung.. gitu..
jujur saya juga kagum dengan semangat beliau menyebarkan entrepreneurship dikalangan pemuda.. semoga berkenan.

Sumber: http://ekonovianto.com/article/90683/7-fakta-menyesatkan-ajaran--bob-sadino-dalam-bisnis--yang-wajib-anda-tahu.html
Selanjutnya...

Rabu, 08 Desember 2010

Toko "Kebahagiaan"

Seorang muda yang selalu resah dan gelisah menemui seorang bijak dan bertanya, ''Berapa lamakah waktu yang saya butuhkan untuk memperoleh kebahagiaan?'' Orang bijak itu memandang si anak muda kemudian menjawab, ''Kira-kira sepuluh tahun.'' Mendengar hal itu anak muda tadi terkejut, ''Begitu lama,?'' tanyanya tak percaya.

''Tidak,'' kata si orang bijak, ''Saya keliru. Engkau membutuhkan 20 tahun.'' Anak muda itu bertambah bingung. ''Mengapa Guru lipatkan dua,?'' tanyanya keheranan. Orang bijak kemudian berkata, ''Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan 30 tahun.'' Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika membaca cerita di atas?

Tahukah Anda mengapa semakin banyak orang muda itu bertanya, semakin lama pula waktu yang diperlukannya untuk mencapai kebahagiaan? Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan? Sebagaimana yang telah banyak disampaikan, kebahagiaan hanya akan dicapai kalau kita mau melakukan pencarian ke dalam.

Namun, itu semua tidak dapat Anda peroleh dengan cuma-cuma. Anda harus mau membayar harganya. Agar lebih mudah kita gunakan analogi sebuah toko. Nama toko itu adalah ''Toko Kebahagiaan.''
Di sana tidak ada barang yang bernama ''kebahagiaan'' karena ''kebahagiaan'' itu sendiri tidak dijual.

Namun, toko ini menjual semua barang yang merupakan unsur-unsur pembangun kebahagiaan, antara lain: kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, kepasrahan, dan rela memaafkan. Inilah ''barang-barang'' yang Anda perlukan untuk mencapai kebahagiaan.

Tetapi, berbeda dari toko biasa, toko ini tidak menjual produk jadi. Yang dijual di sini adalah benih. Jadi, kalau Anda tertarik untuk membeli ''kesabaran'' Anda hanya akan mendapatkan ''benih kesabaran.'' Karena itu, segera setelah Anda pulang ke rumah Anda harus berusaha keras untuk menumbuhkan benih tersebut sampai ia menghasilkan buah kesabaran.

Setiap benih yang Anda beli di toko tersebut mengandung sejumlah persoalan yang harus Anda pecahkan. Hanya bila Anda mampu memecahkan persoalan tersebut, Anda akan menuai buahnya. Benih yang dijual di toko itu juga bermacam-macam tingkatannya.
''kesabaran tingkat 1,''misalnya, berarti menghadapi kemacetan lalu lintas, atau pengemudi bus yang ugal-ugalan.
''Kesabaran tingkat 2'' berarti menghadapi atasan yang sewenang-wenang, atau kawan yang suka memfitnah.

''Kesabaran tingkat 3'', misalnya, adalah menghadapi anak Anda yang terkena autisme. Menu yang lain misalnya ''bersyukur.'' ''Bersyukur tingkat 1'' adalah bersyukur di kala senang, sementara ''bersyukur tingkat 2'' adalah bersyukur di kala susah. ''Kejujuran tingkat 1,'' misalnya, kejujuran dalam kondisi biasa, sementara ''kejujuran tingkat 2'' adalah kejujuran dalam kondisi terancam. Inilah sebagian produk yang dapat dibeli di ''Toko Kebahagiaan''.

Setiap produk yang dijual di toko tersebut berbeda-beda harganya sesuai dengan kualitas karakter yang ditimbulkannya. Yang termahal ternyata adalah ''kesabaran'' karena kesabaran ini merupakan bahan baku dari segala macam produk yang dijual di sana.

Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, ''Apa yang kita peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai. Hanya harga yang mahallah yang memberi nilai kepada segalanya. bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.'' Dengan cara pandang seperti ini kita akan menghadapi masalah secara berbeda. Kita akan bersahabat dengan masalah. Kita pun akan menyambut setiap masalah yang ada dengan penuh kegembiraan karena dalam setiap masalah senantiasa terkandung ''obat dan vitamin'' yang sangat kita butuhkan.

Dengan demikian Anda akan ''berterima kasih'' kepada orang-orang yang telah menyusahkan Anda karena mereka memang ''diutus'' untuk membantu Anda. Pengemudi yang ugal-ugalan, tetangga yang jahat, atasan yang sewenang-wenang adalah peluang untuk membentuk kesabaran.

Penghasilan yang pas-pasan adalah peluang untuk menumbuhkan rasa syukur. Suasana yang ribut dan gaduh adalah peluang untuk menumbuhkan konsentrasi. Orang-orang yang tak tahu berterima kasih adalah peluang untuk menumbuhkan perasaan kasih tanpa syarat. Orang-orang yang menyakiti Anda adalah peluang untuk menumbuhkan kualitas rela memaafkan.

Sebagai penutup marilah kita renungkan ungkapan berikut ini: ''Aku memohon kekuatan, dan aku diberi kesulitan-kesulitan untuk membuatku kuat. Aku memohon kebijaksanaan, dan aku diberi masalah untuk diselesaikan. Aku memohon kemakmuran, dan aku diberi tubuh dan otak untuk bekerja. Aku memohon keberanian, dan aku diberi berbagai bahaya untuk aku atasi. Aku memohon cinta, dan aku diberi orang-orang yang bermasalah untuk aku tolong. Aku mohon berkah dan aku diberi berbagai kesempatan. Aku tidak memperoleh apapun yang aku inginkan, tetapi aku mendapatkan apapun yang aku butuhkan.''

Sumber: http://sagitahariyadin.blogspot.com/
Selanjutnya...

Selasa, 12 Oktober 2010

Bangun Pagi = Rahasia Kesuksesan

Mengapa China berhasil bangkit. Menjelma menjadi macan Asia dengan kekuatan ekonomi yang diperhitungkan. Ternyata, ada salah satu pepatah dari china yang berkata:

“untuk dapat mencapai kesuksesan, kamu harus memastikan bahwa di setiap tahun yang kamu jalani, kamu berhasil”

“Untuk mencapai tahun – tahun keberhasilan, kamu harus memastikan bahwa setiap bulannya, kamu mencapai keberhasilan pula.”

“Untuk mencapai bulan – bulan keberhasilan, kamu harus memastikan bahwa setiap minggunya kamu mencapai keberhasilan.”

“Untuk mencapai minggu – minggu keberhasilan, kamu harus memastikan bahwa setiap harinya kamu mencapai keberhasilan.”

“Untuk mencapai hari – hari keberhasilan, kamu harus memastikan bahwa kamu memulai harimu dengan berhasil.”

“Bagaimana memulai harimu dengan berhasil? Bangun pagi dengan semangat.” Selanjutnya...

Buatlah pilihan untuk hidupmu

Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.

Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.

Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”

Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”

Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat
Selanjutnya...

PAY IT FORWARD

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.Percobaanpun dimulai : Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD, MOM”

Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT FORWARD, MOM”

Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.

Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”

Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan:”PAY IT FORWARD”

Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut, jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.

Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.

Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu)”
Selanjutnya...

Sabtu, 09 Oktober 2010

Semua yang di pikiran kita

Dikisahkan seorang lelaki setengah baya menjual "Roti" di pinggir jalan. Dia buta huruf, jadi dia tidak pernah membaca koran. Ia agak tuli, sehingga dia tidak pernah mendengarkan radio. Pandangan matanya sudah kabur, sehingga ia tidak pernah menonton televisi. Namun dengan antusias, ia banyak menjual "Roti". Dia cukup pintar untuk menawarkan beberapa program pemasaran yang menarik untuk meningkatkan penjualan itu. Penjualan dan labanya meningkat. Ia memperbanyak pembelian bahan baku pembuat roti dan gunakan untuk membuat roti lebih banyak lagi. Ia rekrut beberapa karyawan untuk melayani lebih banyak pelanggan. Diapun mulai menawarkan layanan home delivery.

Seiring dengan bisnis yang berkembang, putranya yang baru saja lulus menjadi Sarjana, bergabung dengan sang ayah. Suatu keanehan mulai terjadi. Sang anak bertanya, "Ayah, apakah Ayah tidak menyadari bahwa resesi yang akan segera datang?" Sang ayah menjawab, "Tidak.., tapi ceritakan tentang hal itu." Si anak berkata, "Situasi perekonomian international memburuk.. Situasi dalam negeri jauh lebih buruk lagi.. Kita harus segera mempersiapkan diri untuk menghadapi krisis ini".

Sang ayah beranggapan bahwa anaknya lebih tahu dari dirinya karena dia sarjana, dia membaca koran, dia mendengarkan radio dan menonton TV, dia pasti tahu dan nasihatnya tidak boleh dianggap enteng.

Pada hari-hari berikutnya, sang ayah mulai mengurangi pesanan bahan baku roti, mencopot papan reklame yang berwarna-warni, menghapus semua program penawaran khusus yang telah dia berikan kepada pelanggan dan dia tidak lagi antusias. Jumlah karyawan dikurangi. Secara perlahan bisnisnya semakin ditinggalkan pelanggan. Semakin sedikit orang yang berkunjung ke toko "Roti"-nya. Penjualan menurun drastis dan keuntungan semakin sedikit. Sang ayah berkata kepada anaknya, "Nak, Kamu benar... Kita berada di tengah krisis dan resesi.. Aku senang kamu memperingatkan Ayah jauh-jauh hari. "

Pesan moral dari cerita di atas:
Semuanya ada dipikiran Kita!!
Kita akan semakin memperparah situasi krisis dan resesi yang terjadi, dikarenakan pikiran dan tindakan yang kita lakukan!

Ini adalah saatnya untuk berpikir positif, saatnya untuk bangkit, inilah saatnya untuk memotivasi orang lain, inilah saatnya untuk menunjukkan komitmen, ini adalah saatnya untuk menunjukkan nilai-nilai semangat dan ini adalah saatnya untuk fokus mencapai tujuan Anda.
Selanjutnya...

Rabu, 06 Oktober 2010

Merubah Dunia dari Diri Sendiri

Di atas nisan seorang tokoh agama di sebuah pemakaman tua, Webminster Abey, Inggris (1100 M) terukir sebuah sajak:


“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itu pun kupersempit. Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku. Namun nampaknya, hasrat itu pun tiada hasilnya.

Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa kuputuskan untuk mengubah keluargaku. tapi celakanya mereka pun tak mau diubah.

Dan kini, sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari… ‘Andaikan yang pertama kuubah adalah diriku sendiri, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia!’”

Sungguh indah kata-kata pada sajak diatas. Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari sajak ini yaitu sebuah cita-cita besar dan sebuah penyesalan. Cita-cita besar yang begitu mulia. Tapi apa yang anda lihat di akhirnya hanya ada sebuah penyesalan. Bukan cita-cita nya yang salah,tapi caranya lah yang kurang tepat dalam mewujudkan mimpi besar tersebut. Hingga ada penyesalan diakhirnya karena ia baru menyadari itu ketika ia sudah menjelang ajal. Ketika ia tak mampu lagi untuk melakukan itu semua.

Bukan tak mungkin kita berada dalam satu kondisi yang sama dengan si penulis asli dari sajak tersebut. Seorang mahasiswa yang idealis yang memiliki cita-cita agung lagi mulia. Bukan tak mungkin kita akan mengalami nasib yang sama dengan beliau. Ketika mahasiswa segala sesuatu yang berbau idealisme,pergerakan,dan perubahan akan sangat menantang bagi kita karena mungkin memang seperti itu pada hakikatnya. Tapi,apakah cara yang kita lakukan sudah benar? Jangan-jangan hanya penyesalan juga yang akan ada pada akhirnya.

Ketika kita memiliki cita-cita itu kita akan sekuat tenaga untuk melakukannya. Melakukan pergerakan untuk merubah dunia. Tapi dibalik itu diri kita sendiri ternyata tidak siap untuk mengikuti perubahan itu.

Belajar dari cerita di atas, maka perubahan yang paling efektif adalah tidak mengharapkan orang lain berubah duluan tetapi kita sendiri mulai mengambil tindakan untuk berubah lebih dahulu dan membiarkan orang lain melihat perubahan yang terjadi dalam hidup kita, sehingga hal tersebut membawa pengaruh positif untuk mengubah kehidupan mereka.

Memang hal ini akan terasa berat karena prosesnya akan berlangsung lama dan butuh ke-konsisten-an dalam teladan. Tapi suatu keyakinan bahwa bahwa sesuatu yang dilakukan dan dicontohkan terus-menerus akan ada “ruh” nya yang akan membuat orang lain terpanggil untuk mengikuti dan meneladani. Butuh kesabaran yang tak terhingga. Tapi tak masalah karena batu yang keras pun bisa jadi berlubang oleh tetesan air yang terus-menerus jatuh pada titik batu tersebut.

Mahatma Gandhi pernah mengatakan "You must be the change you want to see in the world". Kita sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang Kita inginkan terjadi dalam dunia ini. Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Janganlah mengharapkan perubahan dari dunia luar. Janganlah menunda perubahan diri hingga dunia berubah. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Diri kita saja yang tidak ikut berubah.


PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI!

Selanjutnya...