Senin, 02 Maret 2015

Pelanggan adalah Raja, Karyawan adalah Wakil Raja

Kita sudah sering mendengar istilah "Pelanggan adalah Raja". Maksud dari istilah tersebut adalah pelanggan harus diperlakukan dengan sebaik mungkin dengan seksama karena mereka yang akan menentukan hidup mati suatu perusahaan. Setiap Keluhan, Inputan atau Kritik dan Saran, perlu disediakan wadah yang akan menjadi Solusi bagi setiap permasalahan.  Keluhan adalah Pernyataan atau Ungkapan Kekurang Puasan terhadap sebuah produk dan jasa yang Anda miliki, diungkapkan secara Lisan atau Tulisan, dilakukan oleh Pelanggan Internal maupun Eksternal.  Jelas bahwa Pelayanan Pelanggan adalah proses yang cukup Berdampak jika tidak dilakukan dengan maksimal dan seksama.  Jika Pelanggan Anda adalah Tim Departemen yang berbeda, maka akan menjadi sebuah Friksi atau Konflik Internal pada waktunya nanti.  Dan jika Pelanggan Anda adalah pihak Eksternal maka akan berpengaruh pada Brand Image Perusahaan.

Karyawan adalah pion penting di dalam perusahaan, mereka yang berhubungan langsung dengan pelanggan, tanpa kehadiran karyawan dalam sebuah perusahaan maka tidak ada yang menjalankan perusahaan tersebut. istilah baru yang saya buat disini adalah jika pelanggan adalah Raja maka "Karyawan adalah Wakil Raja", di dalam sebuah kerajaan, kepuasan seorang Raja ditentukan oleh kepandaian dari wakilnya dalam memenuhi kebutuhan sang Raja. Wakil Raja harus dilayani dengan baik, jika wakil Raja bahagia, maka ia akan melayani Raja dengan sepenuh hati. Hal ini berlaku di dunia kerja, jika karyawan bahagia, maka mereka akan melayani pelanggan dengan sepenuh hati.

Akan tetapi, sering kita menemui karyawan yang resign hanya gara-gara kecewa dengan perusahaannya. Kecewa karena mendapat perlakuan yang tidak baik. Perusahaan memperlakukan karyawannya hanya sebagai pion atau sapi perah. Banyak perusahaan yang tidak melihat karyawan sebagai manusia secara utuh yang mempunyai segi emosi, segi kesehatan, segi ekonomi, segi pengakuan diri, dll.

Karyawan seringkali kecewa dengan keputusan manajemen perusahaan menyangkut kebijakan sumber daya manusianya. Keputusan yang diambil tidak berdasarkan melihat karyawan sebagai manusia. Keputusan yang hanya terlihat menguntungkan perusahaan saja tanpa memikirkan akibat yang timbul diantara karyawannya. Walaupun keputusan itu sebenarnya baik, tidak ada komunikasi antara manajemen perusahaan dengan karyawan untuk menjembatani perbedaan pendapat.

Karyawan adalah manusia. Layaknya aset, tanpa faktor karyawan, sehebat apapun perusahaan, tidak bisa berjalan dengan baik. Kita lihat adanya mogok bekerja oleh asosiasi pekerjan mengakibatkan bukan lagi kehilangan pendapatan perusahaan tapi sudah kerugian besar. Memperlakukan karyawan hanyalah sumber daya bukanlah kebijakan yang baik. Sumber daya yang hanya diambil keuntungan tanpa melihat faktor di dalamnya.

Manusia sebagai entitas kehidupan yang sangat komplek, sangatlah rumit memperlakukannya. Namun, bukan hal yang susah juga menyenangkan karyawan agar dapat bekerja dengan baik. Karena apabila perusahaan sudah memperlakukan karyawan sebagai manusia yang utuh, bukan hal mustahil perusahaan akan tumbuh menjadi unggul.

Bisa kita lihat di perusahaan maju dan besar. Mereka menjadikan karyawan sebagai aset yang perlu dilindungi dan ditangani dengan sangat baik. Mereka memberi imbalan karyawan tidak sekedar gaji yang layak, tapi juga unsur jaminan kesehatan, perkembangan karir, kesehatan jiwa, lingkungam, dukungan positif dari manajemen, ketegasan dalam menjalankan peraturan, desain kantor yang bagus dan budaya perusahaan yang positif. Membuat karyawan puas bekerja di perusahaan memang bukan hal yang gampang, tapi bukan hal mutlak yang tak bisa dijalankan.

Sebab apabila karyawan sudah senang dan bahagia bekerja, karyawan akan menjadi orang terdepan untuk menumbuhkan maupun sebagai tameng perusahaan. Karyawan akan berbuat apa saja yang mereka bisa agar perusahaannya maju pesat. Mereka sudah melihat bahwa perusahaan adalah rumah milik mereka. Rumah yang akan dipertahankan sebaik mungkin dari gangguan, rumah yang akan terus menerus diperbagus agar nyaman ditinggali, dan tempat keluarga karyawan tumbuh bersama. Apabila sudah mencapai tahap itu, perusahaan bisa dipastikan akan tumbuh walaupun banyak faktor eksternal yang muncul menghadang. Karyawan bisa dijadikan andalan perusahaan untuk kemajuan walapun tanpa diminta. Sudah saatnya pemahaman Customer Focus beralih menjadi Employee Focus.

Perusahaan adalah rumah kedua bagi karyawan. Jadikan rumah yang layak dan nyaman untuk ditinggali.

Sumber: https://irsanwidyawan.wordpress.com/2012/01/13/karyawan-adalah-aset-terbesar-perusahaan/
Selanjutnya...

Jumat, 20 Februari 2015

MASYARAKAT ADAT SOLOMON ISLAND TEBANG POHON DENGAN CACI MAKI

Masayarakat adat Salomon Island, Papua New Guinea (gambar:jungle)

Medialingkungan.com - Pulau Solomon merupakan negara di Malanesia terletak di timur Papua New Guinea dan terdiri dari 990 buah pulau. Pulau Solomon menjadi sebuah negeri naungan United Kingdom sejak 1890-an. Kepulauan Solomon diberi hak kedaulatannya sendiri pada tahun 1976.

Negara ini masih menjadi anggota Kerajaan Komanwel. Terdapat kisah unik di pulau tersebut, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon.

Ketika akan membuka lahan bercocok tanam di dalam hutan, konon, tidak perlu menebang dan membakar hutan. Mereka cukup beramai-ramai mengitari tiap pohon sambil berteriak-teriak dengan kata-kata kutukan yang kasar lagi menghina selama kurang lebih empat puluh hari.

Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mongering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Menurut penelitian, komponen pikiran kita adalah berupa partikel dan atom, jadi semesta ini bergerak karena atom tersebut saling menarik dan sinkron untuk menjadikan hal-hal disekitar kita saling berkaitan. Apabila kita memberikan energi positif maka alam akan menerimanya dengan energy positif juga, begitupula sebaliknya apabila kita menyebarkan energi negatif.

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu singkat, makhluk hidup itu akan mati. (TAN)

Selanjutnya...

Minggu, 15 Februari 2015

Ember Waktu



Pada jaman sekarang, banyak orang berperang untuk memperebutkan minyak bumi. Apa itu minyak bumi? Minyak bumi adalah salah satu sumber daya yang terbatas, tidak dapat diperbaharui lagi dan dapat habis. Minyak bumi digunakan sebagai bahan bakar untuk transportasi, industri dan pembangkit listrik. Peran minyak bumi dalam kehidupan kita sudah sangat terasa begitu penting. Tanpa minyak bumi, perekonomian suatu negara akan melambat, tidak ada mobil atau motor yang melintas di jalan, listrik akan padam secara bergiliran. Karena sifatnya yang terbatas, harga minyak bumi sangatlah mahal.

Akan tetapi, tahukah anda bahwa ada sumber daya yang lebih penting dari minyak bumi? yaitu air. Air juga adalah sumber daya yang terbatas, tidak dapat diperbaharui. Air tawar di dunia hanya 3% sedangkan sisanya adalah air laut (air asin). Saat ini, kita masih sering membuang air di saat beberapa daerah kekurangan air. Di beberapa negara, sudah terjadi perang antar suku untuk memperebutkan air, karena air sangat langka di daerah tersebut. Di mesir, harga 1 botol air lebih mahal daripada bensin. Di masa depan, perang antar negara memperebutkan air adalah hal yang lumrah, karena air tawar sangat langka di masa depan.

Ada satu sumber daya yang paling penting di dalam hidup ini, jauh lebih penting daripada minyak bumi dan air. Sumber daya ini juga terbatas, tidak dapat diperbaharui. Sumber daya ini harganya tidak ternilai, tetapi banyak orang tidak menghargainya, dan suka membuang-buangnya. Tanpa air, manusia masih dapat hidup kurang lebih 3-5 hari menahan haus, akan tetapi tanpa sumber daya yang satu ini manusia tidak dapat hidup sedetikpun, apakah itu? Waktu.

Waktu adalah sumber daya paling penting di dalam hidup kita. Banyak orang berperang demi minyak bumi dan air, tetapi membuang waktu sesuka hati. Banyak orang menjual waktu mereka dengan bekerja untuk mencari uang. Padahal waktu jauh lebih berharga daripada minyak bumi dan air, kenapa begitu? karena waktu terus berjalan selama kita hidup.

Kita menggunakan air di saat kita haus, atau menggunakan minyak bumi di saat motor/mobil kita kehabisan bensin, tetapi waktu terus berjalan saat kita menggunakannya atau tidak. Coba anda bayangkan, stok persediaan air di suatu daerah mengalami suatu kebocoran kecil dan kebocoran itu tidak dapat diperbaiki sehingga air akan terus mengalir keluar baik anda ingin menggunakannya ataupun tidak. Apa yang akan anda lakukan? Siapkan ember. Kita harus menampung kebocoran air tersebut di sebuah ember, agar air tersebut dapat digunakan dengan lebih bijaksana daripada terbuang sia-sia ke tanah.

Cerita di atas merupakan gambaran akan pentingnya waktu, seperti air yang keluar karena adanya kebocoran begitu pula waktu yang terus berjalan, kita harus menampung waktu yang terus mengalir keluar tersebut ke sebuah ember yang saya sebut sebagai Ember Waktu. Dengan menampung waktu di sebuah ember, kita dapat menggunakannya dengan lebih bijaksana, sehingga tidak ada lagi buang-buang waktu, padahal waktu kita di dunia sangatlah singkat dan melesat dengan cepat tanpa kita sadari. Apakah ember waktu itu? Jadwal.

Ember Waktu itu adalah jadwal yang kita rencanakan untuk kehidupan yang akan kita jalani. Pada malam hari, pastikan anda membuat jadwal harian untuk esok hari, sehingga setiap detik kita sudah kita rencanakan sebelumnya dan tidak ada waktu yang sia-sia. "Kita dapat menghasilkan lebih banyak kekayaan, tetapi kita tidak dapat membuat lebih banyak waktu". Kejarlah impian yang belum tercapai sekarang juga karena hidup hanyalah sekali saja. Orang yang bisa menghargai waktu adalah orang yang bijaksana.
Selanjutnya...

Selasa, 27 Januari 2015

MEMBANGUN SALURAN PIPA KEKAYAAN

clip_image001

Kisah ini saya ku
tip dari terjemahan buku “The Parable of Pipeline” tulisan Burke Hedges dan Steve Price, belum jelas apakah ini kisah nyata atau fiksi namun mengandung ibrah yang cukup baik dijadikan bahan renungan.

Saat itu tahun 1801.

Pada sebuah lembah di Italia.

Pada zaman dahulu kala, begitu kisah ini dimulai, ada dua orang saudara sepupu yang tinggal di tempat itu.Keduanya dikenal punya semangat dan ambisi yang kuat untuk mencapai kemajuan. Yang pertama bernama Pablo, yang kedua bernama Bruno. Keduanya tinggal dalam rumah yang berdampingan di desa kecil dalam lembah itu.

Keduanya adalah pemuda yang penuh semangat dan berkemampuan tinggi. Keduanya juga memendam cita-cita yang sama tingginya.Keduanya sama-sama ingin menggapai bintang di langit untuk mewujudkan impian-impiannya.


Keduanya sering berkhayal suatu ketika nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan untuk mewujudkan impian itu. Kata pepatah untuk menjadi sukses kesiapan haruslah bertemu dengan kesempatan. Dan keduanya sama-sama siap.

Pada suatu hari apa yang mereka tunggu selama ini datanglah. Kesempatan itu muncul secara tiba-tiba. Kepala desa itu memutuskan mempekerjakan dua orang itu membawa air dari sungai yang terletak di pinggir desa ke tempat penampungan air yang terletak di tengah desa itu. Pekerjaan itu dipercayakan kepada Pablo dan Bruno.

Tidak menunggu perintah selanjutnya keduanya langsung membawa dua buah ember dan segera menuju sungai. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan ember. Menjelang sore tempat penampungan air sudah penuh sampai ke permukaan. Kepala desa menggaji keduanya berdasar jumlah ember air yang masing-masing mereka bawa.

“Wow ”. “Apa yang kita yang kita cita-citakan selama ini akan terkabul.” teriak Bruno gembira. “Rasanya sulit dipercaya kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini.”

Namun Pablo tidak behenti sampai di situ. Dia tidak yakin begitu saja. Pulang ke rumah Pablo merasakan punggungnya nyeri semua. Kedua telapak tangannya juga lecet-lecet. Semua itu disebabkan dua ember berat berisi air yang dibawanya bolak-bbalik dari sungai ke penampungan air sepanjang hari tadi. Begitu pagi tiba, perasaannya jadi kecut karena harus pergi bekerja. Tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi, Pablo justru berpikir keras mencari akal bagaimana caranya mengangkut air dari sungai ke desa tanpa harus terluka, tanpa harus menanggung rasa nyeri di punggung. Tanpa melakukan hal itu seumur hidupnya.

Pablo, Si Manusia Saluran Pipa

“Bruno, aku punya rencana,” kata Pablo keesokan harinya setelah semalam tak bisa tidur memikirkan jalan keluar pekerjaan mereka. Sambil membawa ember mereka masing-masing dan mereka pun menuju ke sungai, Pablo melanjutkan, “Daripada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember ke sungai dan hanya mendapatkan beberapa sen per hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun pipa saluran air dari sungai ke desa kita.”

Bruno langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.

“Saluran pipa air! Ide dari mana itu ! Kata Bruno tegas. “ “Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yang sangat bagus dan menghasilkan uang dengan mudah, Pablo.”

“Aku bisa membawa 100 ember sehari dengan upah 1 sen per ember. Berarti penghasilan kita bisa 1 Dollar perhari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan ini berarti pada setiap akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir bulan, aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan  kemudian, aku bisa membangun sebuah rumah kecil. Kau melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan mengangkut air di desa ini. Lagi pula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Setiap akhir tahun kita juga mendapat cuti dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan hidup dengan sangat layak dilihat dari sudut manapun. Jadi, buang jauh-jauh idemu untuk membangun saluran pipa air itu.”

Tapi Pablo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada sahabatnya. Bruno tak beranjak sedikitpun dengan tawaran Pablo.

Akhirnya Pablo memutuskan untuk kerja paroh waktu saja. Dia tetap bekerja mengangkuti ember-ember air itu. Sementara sisa waktunya, ditambah libur akhir minggunya dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.

Sejak awal melakukan pekerjaannya ini dia telah menyadari akan sangat sulit membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah keras yang mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkannya dengan luka lecet dan punggungnya nyeri karena mengangkut air.

Pablo juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun secara otomatis menurun. Ia juga sudah sangat paham bahwa dibutuhkan waktu  1 atau  2 tahun sebelum saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yang diharapkan.

Namun, Pablo tak pernah kendor dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah. Melihat apa yang dilakukan Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si Manusia Saluran Pipa.” Bruno, yang punya penghasilan 2 kali lipat dibandingkan Pablo hampir setiap saat membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu mengatakan Pablo bodoh, karena telah meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu.

Bruno juga telah berhasil membeli seekor keledai yang dilengkapi pelana yang terbuat dari kulit yang baru. Ia menambatkan keledainya itu di rumah barunya yang kini terdiri dari 2 lantai itu. Ia juga membeli baju-baju yang indah dan hampir selalu terlihat makan di warung-warung. Panggilannya sehari-hari juga sudah berubah. Kini orang-orang desa memanggilnya Mr. Bruno! Mereka selalu menyambutnya kemanapun ia pergi. Bruno juga tak segan-segan mentraktir para penyambutnya dengan minum-minum di bar. Karena mereka selalu ikut tertawa ketika ia menceritakan lelucon-leluconnya.

Tindakan-tindakan Kecil dengan Hasil Besar

Kini, pemandangan kontras mulai tampak diantara kedua sahabat itu. Sementara Bronu asyik terbaring santai di hammock (tempat tidur gantung berupa jaring). Pada sore hari, pada akhir minggu, Pablo tampak terus berlelahan keringat menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan awal, Pablo memang tak menunjukkan hasil apapun dari usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat berat bahkan jauh lebih berat dari pekerjaan yang dilakukan Bruno, selain harus tetap bekerja pada akhir minggu, Pablo juga bekerja di malam hari.

Tapi Pablo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yang dilakukan hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Centi demi centi!

Pepatah yang selalu diingat Pablo adalah sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dia selalu bersenandung tiap mengayunkan cangkulnya ke tanah yang mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua centimeter, sepuluh centimeter, satu meter, dua puluh meter, seratus meter dan seterusnya….Pablo mulai melihat hasil kerja kerasnya…

Ibarat pepatah yang lainnya lagi, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kata-kata itu selalu dia tanamkan pada dirinya setelah dia kembali ke gubuknya yang sederhana, sepulang dari bekerja. Tubuhnya amat lelah setelah seharian menggali saluran pipa. Dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang bakal dicapainya. Caranya adalah setiap hari dia menetapkan sasaran yang akan dicapainya. Lalu dia akan berusaha keras untuk mencapainya, hari itu juga. Pablo sangat yakin, kerja kerasnya ini akan menghasilkan kekayaan yang jauh lebih besar daripada tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan saat ini.

“Fokuslah pada imbalan yang akan kau peroleh dari pekerjaanmu.” Kata-kata itu terus diingat Pablo. Dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur. Sementara hampir setiap saat, dari bar desa itu dia selalu mendengar gelak tawa yang kerap mengiringinya ke alam mimpi. Fokus, fokus, fokus… dan imbalannya pasti jauh lebih besar.

Keadaan Menjadi Terbalik

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pablo menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi. Ini berarti dia hanya perlu berjalan separoh dari jarak yang biasa ia tempuh untuk mengambil air danau itu. Waktu yang tersisa, kini ia gunakan untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipa pun semakin dekat dan nyata….

Setiap saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja mengangtak ember-ember. Bahu Bruno juga sudah tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering berusaha dia sembunyikan. Langkahnya juga semakin lambat akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena merasa “ditakdirkan” untuk terus-menerus mengangkat ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.

Bruno juga jarang tampak bersantai-santai di tempat tidur gantungnya. Dia lebih sering terlihat di bar. Begitu melihat kedatangan Bruno, orang-orang di bar biasanya akan berbisik, “eh,  lihat, Bruno, si manusia ember.” Mereka juga saling tertawa geli saat beberapa orang mabuk menirukan postur tubuh Bruno yang sudah membungkuk dan caranya berjalan semakin tampak terseok-seok. Bruno tidak pernah lagi mentraktir teman-temannya di bar, atau menceritakan lelucon-lekucon tanda kegembiraan. Dia lebih suka duduk sendiri di sudut gelap yang ditemani botol-botol minuman keras di sekelilingnya.

Akhirnya terjadi juga kegemparan di desa itu. Saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran pipa yang ia bangun sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju penampungan air di desa. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan, penduduk desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah mencari tempat yang lebih dekat dengan sumber air itu.

Setelah saluran pipa selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik saat dia sedang makan, tidur ataupun bermain-main. Air itu tetap mengalir di akhir minggu ketika dia menikmati banyak permainan. Semakin banyak air yang mengalir ke desa, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo.

Pablo yang tadinya terkenal dengan sebutan ‘Pablo Si Manusia Pipa’, kini menjaid lebih terkenal dengan sebutan Pablo Si Manusia Ajaib. Para politisi memuji-muji dia karena visinya jauh ke depan. Mereka bahkan meminta Pablo untuk mencalonkan diri sebagai wali kota. Tetapi, Pablo paham sekali apa yang sesungguhnya dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini semua sebenarnya barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita yang besar. Memang benar, nyatanya Pablo mempunyai rencana yang jauh lebih besar daripada apa yang sudah dihasilkan di desanya.

Pablo sesungguhnya berencana membangun saluran pipa kekayaannya ke seluruh dunia!

Mengajak Teman-temannya untuk Membantu

Saluran pipa membuat Bruno si Manusia Ember kehilangan pekerjaan. Pablo sangat prihatin melihat sahabatnya itu sampai merasa perlu mengemis-ngemis minuman di bar. Karena iba, Pablo berniat menemui Bruno.

“Bruno, saya datang kesini untuk meminta bantuanmu,” kata Pablo.

Bruno meluruskan dulu bahunya yang bengkok, baru menjawab, “Kau jangan menghina saya.”

“Tidak. Saya datang kesini bukan untuk menghina. Saya justru ingin menawarkan peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk menyelesaikan pembangunan pipa saya yang pertama. Tetapi, selama dua tahun tersebut saya belajar banyak hal. Saya jadi tahu alat-alat apa saja yang harus digunakan. Saya juga lebih paham tempat mana yang harus saya cangkul duluan, dan tempat mana yang keras dan sulit dicangkul. Saya juga semakin mengerti di mana seharusnya menanam pipa-pipa itu. Dan selama saya bekerja, saya juga rajin mencatat apa yang saya telah saya lakukan. Oleh sebab itu, sekarang ini saya sudah memapu mengembangkan sebuah cara yang lebih baik untuk membangun saluran-saluran pipa lainnya. ”

Setelah diam sejenak, Pablo melajutkan. “Sebetulnya saya bisa saja membangun saluran pipa itu sendirian dalam waktu setahun. Tetapi rasanya sayang harus berpikir, untuk apa saya harus menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa itu. Rencana saya adalah mengajari kamu dan orang-orang lain yang tertarik, cara membangun saluran pipa. Nantinya, kamu dan orang-orang yang sudah saya ajari ikut mengajarkan lagi kepada orang-orang baru lainnya lagi. Begitulah seterusnya…. Sampai suatu saat nanti, setiap desa di wilayah ini sudah memiliki saluran pipa. Lalu saluran pipa ini menyebar ke setiap desa di negara kita. Bahkan akhirnya pipa-pipa seperti ini akan ada di semua desa seluruh dunia.”

“Coba kamu renungkan baik-baik,” lanjut Pablo, “nantinya kita bisa mengutip sejumlah uang untuk setiap galon air yang dialirkan melalui saluran-saluran pipa tersebut. Semakin banyak air yang mengalir melalui saluran-saluran pipa, semakin banyak pula uang yang masuk ke kantong kita. Pipa yang baru selesai saya buat ini, sebenarnya bukanlah akhir dari cita-cita saya. Justru pipa saya itu merupakan awal dari cita-cita.”

Akhirnya, Bruno menyadari betapa betapa besar potensi bisnis yang ditawarkan sahabatnya itu. Dia tersenyum, kemudian mengacungkan tangannya yang lecet-lecet kepada sahabatnya. Mereka berjabat tangan, kemudian berpelukan. Bagaikan dua orang sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa.

Peluang Usaha Saluran Pipa di Dunia Pembawa Ember

Tahun demi tahun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pensiun. Usaha saluran pipa mereka yang mendunia terus-menerus mengalirkan ratusan juta dolar per tahun ke rekening-rekening bank mereka. Ketika mereka berjalan-jalan di desa, kadang-kadang mereka melihat beberapa orang pemuda. Mereka tampak sangat sibuk mengangkuti air dengan ember.

Kedua sahabat masa kecil itu selalu berusaha mengajak pemuda-pemuda seperti itu untuk berbincang-bincang. Mereka selalu mengisahkan kisah hidup mereka sebagai pembawa ember sampai kemudian menjadi pembangun saluran pipa. Lalu mereka menawarkan bantuan, untuk membangun saluran pipa. Tetapi hanya sedikit di antara mereka yang mau mendengarkan nasihat mereka dan berusaha meraih peluang untuk melakukan usaha membangun saluran pipa mereka sendiri. Memang menyedihkan, melihat banyak di antara para pembawa ember menolak tawaran tersebut. Bruno sering merasa heran dengan alasan-alasan yang selalu mereka kemukakan.

“Saya tidak ada waktu.”

“Teman saya bilang bahwa dia kenal orang yang berusaha membangun saluran pipa tetapi ternyata gagal.”

“Hanya mereka yang terlebih dulu terjun dalam usaha saluran pipa ini yang akhirnya bisa sukses.”

“Seumur hidup, saya hanya mengenal pekerjaan saya sebagai pengangkut ember. Saya tetap akan mempertahankan profesi saya itu.”

“Saya tahu, ada orang yang akhirnya merugi karena membangun saluran pipa seperti itu. Jadi saya tidak mau mengikuti jejak mereka. Saya tidak mau merugi.”

Pablo dan Bruno benar-benar prihatin melihat mental para pembawa ember ini. Ternyata ada banyak sekali orang yang tidak punya visi tentang masa depan mereka. Tetapi akhirnya mereka pasrah saja.

Mereka sadar bahwa hidup di dunia yang masih didominasi oleh mental si pembawa ember ini, semuanya bisa terlihat statis. Hanya sedikit saja mereka yang berani dan punya ambisi untuk mencapaui kesuksesan melalui saluran pipa. (jumadi subur, Siapa Bilang Saya tidak Ingin Kaya?)
Selanjutnya...

Mental Pembawa Ember atau Pembangun Saluran Air?

Apakah anda percaya bahwa uang diperoleh dengan bekerja?
Apakah anda percaya bahwa tidak bekerja = tidak ada uang?
Apakah sekarang anda bekerja untuk mendapatkan uang?

Sampai usia berapakah anda ingin tetap bekerja?
Bila anda sudah tidak bekerja, apakah anda nanti masih memiliki uang?
Bila anda sudah berhenti bekerja, dari manakah anda memperoleh uang?
Bila anda sudah berhenti bekerja, akan cukupkah uang anda?

Apakah anda mengenal konsep “PASSIVE INCOME’?
Alkisah, ada sebuah desa di kaki pegunungan. Sumber mata air   terdapat di atas gunung. Setiap hari penduduk desa harus mengambil air   dari atas gunung, dibawa turun ke desa di bawah kaki gunung tersebut.

Bila anda menjadi penduduk desa tersebut, bagaimana caranya anda mengambil air setiap hari? Ada dua pilihan:
  1. Menggunakan ember
  2. Membangun saluran air 
Dari dua pilihan tersebut, yang manakah yang anda pilih?

99% orang pasti memilih membangun saluran air.

Apakah pilihan anda sama (membangun saluran air) ?
Mengapa anda tidak memilih menggunakan ember?
Banyak alasan orang tidak mau menggunakan ember, antara lain: tidak efisien, boros waktu, capek, dll.

Tetapi ada 2 hal yang sangat membedakan antara menggunakan ember dan membangun saluran air:
  1. Dengan menggunakan ember, berarti harus bolak-balik terus-menerus. Artinya harus terus-menerus MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG ITU-ITU JUGA.
  2. Dengan menggunakan ember, pada saat kita berhenti, maka berarti AIRNYA JUGA BERHENTI SEKETIKA.

Tapi dengan pilihan kedua, yaitu membangun saluran air, ada 2 hal yang perlu kita ingat:
Setelah saluran air selesai dibangun, AIR AKAN MENGALIR DENGAN SENDIRINYA,bahkan pada waktu kita tidur sekalipun.
Dengan membangun saluran air, berarti kita BEKERJA SEKALI, TAPI HASILNYA KITA BISA NIKMATI TERUS MENERUS. Inilah maksud sebenarnya dari PASSIVE INCOME.

Apakah pekerjaan/bisnis anda sekarang lebih mirip dengan “prinsip ember” atau ‘prinsip saluran air”?
Apakah anda harus mengerjakan pekerjaan/bisnis anda setiap hari?

Apakah anda “dibayar” untuk kepandaian/kemampuan anda, atau hanya sekedar waktu anda saja?

99% pekerjaan adalah “hanya” menukar waktu anda dengan uang.

Buktinya, sewaktu anda berhenti mengerjakan pekerjaan/bisnis anda   sekarang, apakah masih ada kemungkinan untuk terus mendapatkan penghasilan darinya?

Kembali ke pertanyaan di atas: SAMPAI USIA BERAPA ANDA AKAN TERUS BEKERJA?

Apakah anda BUTUH dengan apa yang disebut “passive income”?

Bila anda tidak ingin bekerja sampai tua, berarti anda BUTUH kesempatan untuk memperoleh “passive income”.

Berarti anda BUTUH untuk mulai membangun saluran pipa.

KAPAN WAKTU YANG TEPAT untuk mulai membangun saluran pipa?

Waktu yang tepat yang terbaik adalah: KEMARIN
Sekarang hanya ada waktu yang tepat urutan kedua, yaitu: HARI INI

Faktanya, saya BUTUH “membangun saluran air”, tapi saat ini saya terlalu sibuk dan tidak punya waktu.
Bagaimana caranya?
  1. Pekerjaan dengan “menggunakan ember” TIDAK AKAN PERNAH SELESAI. Jadi TIDAK ADA GUNANYA MENUNGGU waktu yang tepat lagi.
  2. Bila anda benar-benar BUTUH, maka pasti WAKTU akan ada dengan sendirinya. Sama seperti anda “butuh” masuk kantor, anda “butuh” buka toko, anda “butuh” meninjau pabrik, anda “butuh” pergi liburan, dsb. Sekali lagi, bila anda benar-benar BUTUH “membangun saluran air” dan menganggapnya benar-benar PENTING, maka ANDA PASTI PUNYA WAKTU untuk itu.
  3. Semakin lama anda menunda membangun saluran pipa, semakin lama pula anda terjebak menggunakan ember terus-menerus.
  4. Pekerjaan dengan menggunakan ember, semakin lama akan semakin berat. Tidak pernah menjadi semakin mudah.
  5. Mulai membangun saluran air pada saat kita masih bisa menggunakan ember, adalah hal yang sangat bijaksana. Bila kita baru mau membangun saluran pipa pada saat sudah tidak bisa menggunakan ember lagi, semuanya sudah jadi sangat terlambat.
  6. Ingat, WAKTU YANG TEPAT SUDAH LEWAT, tinggal bagaimana kita MENGGUNAKAN HARI INI AGAR TIDAK SEMAKIN TERLAMBAT.
  7. Tidak ada yang bisa mengatur waktu anda, sebaik anda sendiri.

Kita sudah melihat prinsip “passive income” dengan membangun saluran air. Mari kita teruskan cerita “membawa ember” dan “membangun saluran air” tadi.
Bagaimana caranya bagi seorang pembawa ember, bila dia ingin memperbanyak air yang bisa dibawanya tiap hari? Ada beberapa pilihan yang biasa dilakukan:

1. Memperbesar ukuran ember.
Bisa diartikan, kita menerima ‘kenaikan jabatan” yang disertai   bertambahnya tanggung jawab dan bertambahnya beban pekerjaan tersebut.

2. Menambah jumlah ember yang dibawa.
Bila penghasilan dari satu pekerjaan tidak cukup, biasanya kita   mencari pekerjaan kedua, atau bahkan ketiga. Biasanya ada satu pekerjaan   yang “full-time” dan ada beberapa yang “part-time”.

3. Menambah waktu kerja.
Singkatnya, lembur siang-malam. Tidur hanya 2-3 jam sehari.

Apakah cara-cara di atas mampu memperbanyak air (memperbesar penghasilan) kita?
Tentu saja bisa. Tetapi cara-cara di atas SANGAT TERBATAS, untuk 2 hal:
  1. Terbatasnya tenaga
  2. Terbatasnya waktu

Karena cara-cara di atas SANGAT TERBATAS, maka kita perlu mengingat fakta-fakta di bawah ini (karena kita seringkali lupa) :
  1. Dengan mengandalkan prinsip ‘membawa ember”, kita SELAMANYA TIDAK MUNGKIN SUKSES besar, karena sudah terbukti SANGAT TERBATAS.
  2. Oleh karenanya, TIDAK PERNAH ADA orang-orang terkaya (tersukses) yang mencapai kesuksesannya saat ini dengan mengandalkan prinsip “membawa ember”.
  3. Semua pakar-pakar ternama di dunia mengajarkan bahwa dengan “membawa ember”, tidak akan membawa kita kemana-mana. Hanya di situ-situ saja seumur hidup. (Misal: Robert T. Kiyosaki dalam “Rich Dad Poor Dad”)
  4. Bila kita SEUMUR HIDUP hanya ngotot dengan “membawa ember” saja, SUDAH PASTI kita tidak bisa mencapai sebagian besar impian kita, karena satu hal pasti: membawa ember itu potensinya SANGAT TERBATAS.
  5. Anda tidak perlu mencari bukti lebih banyak lagi. Orang-orang di sekitar kita sudah banyak yang menjadi contoh dan bukti mutlak, bahwa dengan hanya “membawa ember” saja, maka TIDAK MUNGKIN bisa benar-benar sukses. 
Nah, sekarang bagaimana dengan “membangun saluran air”?

Tadi kita sudah sepakat bahwa: setelah saluran air selesai dibangun, air akan terus mengalir, bahkan pada saat kita tidur.

Pertanyaannya: Bagaimana bila aliran air tersebut tidak cukup. Bagaimana bila kita ingin memperbesar kapasitas air yang mengalir?
Terbatas jugakah?

Jawabannya: DENGAN SATU SALURAN AIR, MEMANG TERBATAS.

Tapi ingatlah hal ini:
  1. Setelah satu saluran air selesai dibangun, KITA BISA MULAI MEMBANGUN SALURAN AIR lainnya.
  2. Pada saat kita membangun saluran air yang kedua (atau ketiga), SALURAN AIR PERTAMA TETAP MENGALIR airnya.
  3. Artinya, kita bisa membangun BANYAK SEKALI SALURAN AIR, dan ini berarti PENGHASILAN KITA MENJADI TIDAK TERBATAS.

Inilah yang kita sebut dengan “UNLIMITED INCOME”, yaitu sebuah PENGHASILAN DENGAN POTENSI YANG TIDAK ADA BATASNYA.
Batasnya hanya ditentukan oleh serajin apa kita membangun saluran-saluran air kita.


Lalu kapan berhentinya? Sama juga donk dengan “membawa ember”?

Beda sekali. Bedanya :
  1. Dengan “membawa ember”, begitu kita berhenti, SEMUA PENGHASILAN SERTA MERTA BERHENTI TOTAL.
  2. Dengan “membangun saluran air”, begitu kita berhenti, PENGHASILAN KITA MASIH TETAP MENGALIR TERUS.

Yang berhenti hanya pertumbuhan penghasilannya (dan pada prakteknya, itupun bukan berhenti bertumbuh sama sekali, hanya menjadi lebih lambat   saja). Pada suatu saat, bila kita sudah cukup “puas” dengan tingkat   penghasilan kita saat itu, tentu boleh-boleh saja punya alasan untuk berhenti, dan mulai benar-benar menikmati “passive income” yang  “unlimited”.

CATATAN PENTING :
  1. Membangun saluran air pasti perlu waktu.
  2. Untuk mencapai “unlimited income”, kita mungkin harus membangun beberapa saluran air.
  3. Oleh karena itu PENTING SEKALI agar kita MULAI MEMBANGUN SALURAN AIR YANG PERTAMA SECEPAT MUNGKIN, SEDINI MUNGKIN.
  4. Sebelum kita MULAI membangun saluran air kita yang pertama, artinya kita juga BELUM memulai usaha kita mencapai “unlimited income”.
  5. Inilah juga alasan terpenting mengapa kita TIDAK BOLEH MENUNDA-NUNDA LAGI untuk MULAI membangun saluran pipa kita yang pertama, baru nanti ada yang kedua, ketiga dan seterusnya.
  6. MULAILAH HARI INI JUGA.

Sekali lagi tentang “ember” dan “saluran air” :

1. Apakah “ember” bisa anda wariskan ke anak anda?
Tentu saja bisa. Tapi ingat, bila anda mewariskan ember kepada anak anda, berarti pula:
  • Anda bisa mewariskan embernya, tapi TIDAK AIRNYA.
  • Anak anda TETAP HARUS BOLAK-BALIK mengangkut air sendiri setiap hari.
  • Anda bisa mewariskan bisnis anda kepada anak/keluarga anda, tapi ingat, anak/keluarga anda tetap harus “meneruskan” bisnis anda tersebut.
  • Bila anak anda BERHENTI membawa ember, AIRNYA PASTI BERHENTI JUGA kan.

2. Apakah “saluran air” bisa anda wariskan ke anak anda?
Jelas bisa.
  • Hebatnya, bila anda mewariskan “saluran air” ke anak anda, maka berarti anda juga SEKALIGUS mewariskan airnya.
  • Air tetap akan mengalir terus, walaupun anda sudah tidak ada lagi.
  • Kehidupan anak/keluarga anda JAUH LEBIH TERJAMIN bila anda mewariskan saluran air, bukannya ember.

Banyak orang yang gagal melihat kelebihan mewariskan saluran air dibandingkan dengan mewariskan ember.

Mana yang anda pilih untuk diwariskan ke anak anda?
EMBER atau SALURAN AIR ???

Bila anda memilih untuk mewariskan SALURAN AIR, maka ada beberapa hal yang penting untuk anda ingat:
  1. SEGERA mulai membangun saluran airnya. Anda TIDAK BISA MEWARISKAN APA YANG ANDA TIDAK PUNYA.
  2. Bila anda setuju, bahwa untuk membangun saluran air itu diperlukan waktu, maka itu pula lah alasannya mengapa anda harus MULAI SAAT INI JUGA.
  3. Semakin terlambat anda mulai membangun saluran air, maka SEMAKIN BESAR RESIKONYA bahwa saluran air itu tidak SELESAI PADA WAKTUNYA.
  4. Bila saluran air itu BELUM SELESAI pada waktunya, dan anda sendiri tiba-tiba tidak bisa meneruskannya lagi, maka ANAK ANDA TIDAK AKAN MEWARISKAN APA-APA. Tidak mewariskan saluran air, dan besar kemungkinan juga tidak mewariskan “ember” pula.
  5. Membangun saluran air bukan HANYA UNTUK ANDA, tapi juga UNTUK MASA DEPAN ANAK-ANAK DAN KELUARGA ANDA.
  6. Bila membangun saluran air SEDEMIKIAN PENTINGNYA, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan: MULAILAH SAAT INI JUGA.
  7. Karena SEDEMIKIAN PENTINGNYA arti saluran air ini bagi masa depan anak dan keluarga kita, maka berarti pula TIDAK ADA ALASAN APA PUN untuk tidak segera mulai membangun saluran air ini. Tidak ada alasan waktu, tidak ada alasan ketrampilan, dan tidak ada alasan-alasan lainnya.
  8. Hal ini karena membangun saluran air adalah TERAMAT SANGAT PENTING SEKALI.

Beberapa pertanyaan terakhir:
  1. Apakah anda sudah paham kelebihan membangun saluran air dibandingkan dengan membawa ember? (passive income, unlimited income, warisan)
  2. Apakah pekerjaan/bisnis anda sekarang lebih dekat ke “membawa ember” atau ke “membangun saluran air”?
  3. Apakah anda BUTUH untuk membangun saluran air?
  4. Bila seumur hidup anda tidak punya saluran air, apakah anda merasa hidup anda akan baik-baik saja? (karena faktanya hanya sedikit sekali orang yang memilih membangun saluran air)
  5. Bila seumur hidup anda hanya membawa ember, apakah anda merasa biasa-biasa saja? (karena sebagian besar orang yang seperti itu, seumur hidup hanya membawa ember saja)
  6. Apakah dengan adanya saluran air akan banyak membantu anak/keluarga anda nantinya?
  7. Apakah masa depan anak/keluarga anda bisa banyak berubah bila anda mau mulai membangun saluran air?

Kondisi kita saat ini adalah akibat pilihan-pilihan kita di masa lalu.
Kondisi kita di masa depan tergantung dari pilihan-pilihan kita saat ini.

Sumber: dari Dikdik Mulyadi
Selanjutnya...

Sabtu, 24 Januari 2015

Hidup Seperti Mengendarai Mobil

di dalam kehidupan ada tiga tipe orang berdasarkan cara orang tersebut mengendarai mobil untuk sampai pada tujuan, yaitu :
Yang pertama adalah orang yang tidak bisa nyetir. Dia harus disetirin. Harus dilayani supir. Dia tinggal duduk di belakang, dan sopir membawanya ke tujuan. Untuk itu ia harus menggantungkan hidupnya kepada si supir.
Yang kedua adalah orang yang sudah belajar nyetir sendiri. Dia bisa mengemudikan mobil ke mana saja dia suka. Semakin lama, semakin terampil.
Yang ketiga adalah orang yang bisa melayani orang lain, menjadi supir. Kemampuannya mengendarai mobil mendapatkan penghargaan.
Termasuk tipe orang yang manakah anda? 
Kalau anda banyak mengeluh dalam hidup ini, maka anda itu masih jenis yang pertama. Masih harus dilayani orang lain. Hidup anda akan tergantung kepada orang lain. Anda tidak memiliki kuasa atas kehidupan anda. Seperti seorang karyawan yang setiap bulan mengeluh tentang gaji yang didapatnya, yang masih menggantungkan hidupnya kepada perusahaan tempat dia bekerja. 
Jika anda tidak puas dengan kehidupan anda saat ini, mungkin sudah saatnya anda berpindah tempat menjadi tipe orang yang kedua, yaitu belajar menyetir sendiri. Menggantungkan hidup di tangan orang lain bukanlah pilihan yang bijak. Jika orang lain tidak bekerja dengan baik, maka hidup anda merana. Lebih menyenangkan kalau anda belajar nyetir sendiri. Kebahagiaan anda tidak lagi terlalu bergantung kepada orang lain. Dan anda lebih bebas mencari apa yang anda mau. 
Yang paling top itu adalah yang sudah sangat ahli dan bisa menolong orang lain. Kemampuan anda menjalani hidup ini menjadi inspirasi untuk orang lain.
Semua keputusan ada di tangan anda, apakah anda ingin menjadi penumpang atau supir atau supir yang membawa penumpang di mobilnya. Semua terserah kepada anda, akan tetapi waktu kita di dunia ini sangatlah singkat, jadi jalanilah hidup ini sebaik-baiknya, have a nice day :D


Selanjutnya...

Kamis, 22 Januari 2015

Memulai Usaha Seperti Masuk Kamar Mandi

Saya sering memberi contoh bahwa memulai usaha itu sebaiknya sama seperti masuk ke kamar mandi. Dimana persamaannya? Memulai usaha sebaiknya jangan terlalu banyak dipikir, sebab kalo terlalu banyak dipikir tidak akan mulai-mulai. Sama seperti masuk kamar mandi. Tidak ada orang yang sebelum masuk kamar mandi berpikir dahulu, misalnya apakah mandi saya akan sukses nanti, apakah sabunnya sudah ada atau belum, apakah nanti airnya cukup atau tidak?

Itulah persamaannya, jadi memulai usaha sama dengan masuk ke kamar mandi, tidak usah terlalu banyak dipikir. Kalo ternyata saat masuk kamar mandi sabunnya tidak ada tinggal keluar lagi ambil sabun, kalo handuknya ketinggalan tinggal teriak minta tolong diambilkan handuk. Begitu juga bisnis, tidak perlu terlalu banyak dipikir, karena kalo terlalu banyak dipikir, maka tidak akan buka usaha, tapi kalo sudah dibuka usahanya, maka pasti akan mikir juga. PURDI E CHANDRA
Selanjutnya...